Category: kesehatan

October 24th, 2020 by publisher

Angin duduk atau angina adalah suatu penyakit yang ditandai dengan nyeri dada akibat otot jantung kurang mendapatkan pasokan oksigen dari aliran darah. Pasokan darah ke otot jantung terganggu karena adanya penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah. Angin duduk dapat terjadi secara tiba-tiba.

Faktor Risiko Angin Duduk
Terdapat beragam faktor resiko yang bisa menyebabkan seseorang rentan terhadap angin duduk, antara lain:

Kolesterol tinggi.

Diabetes atau kencing manis.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Stres.

Obesitas.

Merokok.

Riwayat terkena penyakit jantung sebelumnya.

Riwayat keluarga mengalami penyakit jantung.

Kurang berolahraga.

Usia di atas 45 tahun bagi pria dan di atas 55 tahun bagi wanita.
Penyebab Angin Duduk
Supaya dapat bekerja dengan baik, jantung membutuhkan cukup darah yang kaya oksigen. Darah untuk jantung dialirkan oleh dua pembuluh besar yang disebut sebagai pembuluh koroner. Penyebab utama angin duduk adalah terjadinya penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh koroner tersebut. Berikut adalah beberapa jenis angin duduk yang dapat terjadi:

Angina stabil. Umumnya, kondisi ini dipicu oleh aktivitas fisik, misalnya olahraga. Saat seseorang berolahraga, jantungnya akan membutuhkan lebih banyak oksigen dari aliran darah. Kebutuhan tersebut tidak akan tercukupi jika terjadi penyumbatan atau penyempitan pada pembuluh koroner. Serangan angin duduk stabil juga dapat dipicu oleh hal lain, seperti merokok, stres, makan berlebihan, dan udara dingin.

Angina tidak stabil. Keadaan ini dipicu oleh timbunan lemak atau pembekuan darah yang mengurangi atau menghalangi aliran darah menuju jantung. Meskipun pengidap sudah mengonsumsi obat dan istirahat, tetapi nyeri dada akibat angin duduk tidak stabil akan tetap ada. Jika tidak ditangani dengan baik, serangan angin duduk tidak stabil bisa berkembang menjadi serangan jantung.

Angina varian (angina duduk Prinzmetal). Pada keadaan ini, arteri jantung menyempit sementara akibat spasme atau kekakuan pembuluh darah. Orang yang sedang beristirahat pun bisa terkena angin duduk varian. Hal ini dikarenakan angin duduk varian dapat terjadi kapan saja. Penyempitan sementara pada pembuluh darah ini menyebabkan pasokan oksigen dari aliran darah ke jantung menurun dan timbulah nyeri dada. Gejala pada angin duduk varian ini dapat diredakan dengan obat-obatan.
Gejala Angin Duduk
Pengidap angin duduk biasanya akan mengalami berbagai gejala, antara lain:

Nyeri dada yang dapat menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, dan punggung.

Dada seperti terhimpit atau tertekan benda berat.

Sesak napas.

Tubuh terasa lelah.

Mual.

Pusing.

Gelisah.

Mengeluarkan keringat berlebihan.

Pingsan.
Diagnosis Angin Duduk
Selain melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat gejala yang dialami pengidap, ada beberapa pemeriksaan lain yang umumnya akan dilakukan oleh dokter, seperti:

Elektrokardiogram (EKG). Penggunaan EKG atau rekam jantung bertujuan untuk melihat apakah aliran darah pengidap mengalami gangguan atau penurunan.

Ekokardiogram. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai fungsi kontraksi otot jantung dan fungsi katup jantung yang dapat mengalami penurunan bila terjadi kerusakan otot jantung akibat terganggunya aliran darah atau bagian jantung yang kurang mendapatkan aliran darah.

Tes ketahanan jantung (Exercise Tolerance Test). Tujuan utama dari pemeriksaan ini adalah mengukur daya tahan jantung saat melakukan aktivitas fisik sebelum timbul gejala angin duduk.

Skintigrafi jantung. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui aliran darah dalam pembuluh darah tersebut mengalami gangguan.

Angiografi pembuluh darah koroner. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah pembuluh darah koroner mengalami penyumbatan dan seberapa parah penyumbatan tersebut.

Pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengukur kadar enzim jantung dalam darah untuk mengetahui kerusakan jantung akibat serangan jantung.

X-ray dada (rontgen). Pemeriksaan ini untuk melihat apakah gejala yang dirasakan pengidap disebabkan oleh kondisi selain angin duduk atau untuk melihat adanya pembesaran jantung.

CT scan jantung. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui adanya dan seberapa parah penyempitan pada pembuluh jantung serta apakah ada pembesaran jantung yang tidak terlalu tampak dari hasil X-Ray dada.
Pengobatan Angin Duduk
Pengobatan angin duduk bertujuan untuk mengurangi keparahan gejalanya dan menurunkan risiko pengidap terkena serangan jantung yang dapat berakibat kematian. Jika gejala masih ringan atau menengah, meninggalkan kebiasaan buruk dan menjalani pola hidup sehat bisa dilakukan sebagai penanganan angin duduk. Umumnya, dokter akan memberikan prosedur tindakan atau beberapa resep obat untuk pengidap angin duduk, antara lain:

Operasi angioplasti dengan pemasangan stent di pembuluh darah jantung. Prosedur ini merupakan prosedur utama dalam penanganan sumbatan pembuluh darah koroner. Prosedur ini bertujuan untuk memperlancar aliran darah dan memperlebar pembuluh darah dengan menggunakan balon kecil khusus yang ditiup, kemudian pembuluh darah dipasang stent agar aliran darah tetap lancar di bagian pembuluh darah yang tersumbat tersebut.

Obat-obatan nitrat. Fungsi utama obat ini adalah untuk melemaskan pembuluh darah yang kaku agar darah dapat mengalir dengan lancar menuju jantung.

Obat-obatan pencegah pembekuan darah. Obat ini berfungsi memisahkan kepingan-kepingan darah dan mencegah penggumpalan darah.

Obat penghambat saluran kalsium. Obat ini dapat melancarkan aliran darah di dalam jantung dan meredakan atau mencegah gejala angin duduk.

Obat penghambat beta. Obat ini bekerja dengan cara menangkal efek hormon adrenalin, sehingga tekanan darah berkurang dan ritme jantung menurun.

Obat penurun kadar kolesterol dalam tubuh. Sehingga, pencegahan kerusakan pembuluh darah bisa dilakukan dengan konsumsi obat ini.

Obat yang berfungsi untuk mengurangi tingkat penggumpalan darah, sehingga darah akan mudah mengalir melalui pembuluh yang sempit sekali pun.

Obat penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor). Obat ini berfungsi untuk menghambat aktivitas suatu hormon yang dapat mempersempit pembuluh darah.

Operasi bypass. Prosedur ini bertujuan untuk mengalihkan rute aliran darah agar tidak melewati pembuluh darah yang tersumbat atau rusak dengan menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh lainnya.
Pencegahan Angin Duduk
Terdapat berbagai langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk angin duduk, antara lain:

Berolahraga.

Mengonsumsi makanan yang sehat untuk jantung.

Menghindari makanan yang berbahaya bagi jantung.

Menjaga berat badan ideal.

Membatasi konsumsi minuman beralkohol.

Berhenti merokok.

Posted in kesehatan Tagged with:

October 24th, 2020 by publisher

Anemia defisiensi vitamin B12 atau folat (vitamin B9) adalah kondisi yang berkembang ketika tubuh kekurangan vitamin B12 atau folat. Keadaan ini yang menyebabkan tubuh menghasilkan sel darah merah yang tidak berfungsi dengan baik. Anemia jenis ini akan terjadi, jika asupan makanan dengan vitamin B12 atau folat pada tubuh tidak cukup, atau mengalami kesulitan memproses/menyerap zat-zat tersebut.

Penyebab Anemia Defisiensi Vitamin B12 dan Asam Folat

1. Penyebab Anemia Defisiensi Vitamin B12

Mengidap anemia pernisiosa. Tubuh menyerap vitamin B12 melalui lambung. Agar proses penyerapan vitamin B12 dari makanan yang dikonsumsi lancar, sebuah protein bernama faktor intrinsik akan menempelkan dirinya pada vitamin B12. Anemia pernisiosa adalah penyakit autoimun yang memengaruhi lambung. Penyakit autoimun berarti sistem kekebalan tubuh menyerang sel sehat tubuh sendiri. Pada anemia pernisiosa, terjadi defisiensi, karena vitamin B12 tidak dapat diserap oleh tubuh. Hal ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang sel dalam lambung yang menghasilkan faktor instrinsik.

Faktor makanan yang dikonsumsi. Ikan, daging dan berbagai produk olahan susu adalah menu makanan yang menyediakan banyak kandungan vitamin B12. Vegetarian atau orang yang hanya mengonsumsi makanan berasal dari tumbuhan, mungkin tidak memiliki cukup vitamin B12 dalam menu mereka. Hal ini juga dapat terjadi pada orang-orang yang memiliki menu sangat sederhana dalam jangka waktu lama.

Penyakit yang memengaruhi usus. Saat tubuh tidak dapat menyerap vitamin B12 seperti biasanya, penyakit yang memengaruhi usus atau sebagian dari sistem pencernaan bisa menjadi penyebabnya. Salah satunya adalah penyakit Crohn, yaitu penyakit jangka panjang yang menyebabkan peradangan pada dinding sistem pencernaan. Kondisi ini dapat membuat tubuh kekurangan vitamin B12.

Kondisi yang memengaruhi lambung. Kondisi lambung atau operasi lambung bisa menjadi penyebab terhalangnya proses pennyerapan vitamin B12.

Konsumsi obat-obatan tertentu. Konsumsi obat-obatan tertentu bisa mengurangi kandungan vitamin B12 pada tubuh. Misalnya proton pump inhibitor (PPIs), yaitu obat untuk mengatasi masalah pencernaan.

2. Penyebab dari Anemia Defisiensi Folat

Makanan yang tidak sehat dan tidak seimbang.

Mengubah jenis atau pola makan harian, misalnya untuk alasan menurunkan berat badan.

Konsumsi minuman beralkohol berlebihan juga berisiko mengalami anemia defisiensi folat.

Terjadinya malabsorpsi pada penderita penyakit Celiac. Kondisi ini dapat memengaruhi sistem pencernaan, sehingga tubuh tidak dapat menyerap folat.

Buang air kecil berlebihan, seperti pada pengidap penyakit ginjal, jantung, dan hati, menyebabkan kehilangan folat dari tubuh.

Konsumsi obat-obatan tertentu. Efek dari obat-obatan tertentu menyebabkan folat dapat berkurang jumlahnya dan kadang sulit diserap tubuh.

Bayi prematur yang lahir sebelum 37 minggu masa kehamilan cenderung akan mengalami anemia defisiensi folat, karena tubuh mereka yang sedang berkembang membutuhkan lebih banyak vitamin folat daripada bayi lahir usia kandungan normal.

Faktor kehamilan. Jika sedang hamil atau berencana untuk hamil, disarankan minum suplemen asam folat 0,4 miligram per hari dan dilakukan hingga kehamilan berusia 12 minggu. Hal ini dilakukan untuk memastikan ibu dan bayi memiliki cukup folat dalam tubuh. Dan bertujuan membantu bayi tumbuh dan berkembang.

Gejala Anemia Defisiensi Vitamin B12 dan Asam Folat

1. Gejala Anemia Defisiensi Vitamin B12

Gejala umum anemia, seperti lemah, letih, lesu, dan pucat.

Lidah perih dan berwarna kemerahan atau radang lidah.

Warna kulit menjadi kekuningan.

Sariawan di mulut.

Indra peraba terasa berbeda atau fungsinya berkurang.

Kemampuan merasakan sakit berkurang.

Penglihatan terganggu.

Mudah marah.

Perubahan cara berjalan dan bergerak.

Depresi, yaitu merasa sedih sekali dan berlangsung lama.

Demensia, yaitu kemampuan mental berkurang terkait ingatan, pemahaman, dan penilaian.

Psikosis, yaitu kondisi yang memengaruhi pikiran dan mengubah pola pikir, perasaan, dan perilaku.

2. Gejala Anemia Defisiensi Folat

Gejala umum anemia.

Kemampuan indra peraba menurun, misalnya berkurang atau hilangnya rasa sentuhan dan rasa sakit.

Kemampuan otot melemah.

Merasa depresi.

Diagnosis Anemia Defisiensi Vitamin B12 dan Asam Folat
Diagnosis bisa dilakukan dokter dengan beberapa langkah berikut ini:

Memeriksa ukuran sel darah merah apakah melebihi normal.

Memeriksa tingkat hemoglobin dalam darah.

Memeriksa kadar vitamin B12 di dalam darah.

Memeriksa kadar folat di dalam darah.

Jika dicurigai mengidap defisiensi vitamin B12, dokter akan menyarankan pengidap untuk menjalani beberapa pemeriksaan tambahan, yaitu:

Pemeriksaan antibodi. Antibodi dalam darah pengidap akan diperiksa.

Pemeriksaan asam methylmalonic. Pada pemeriksaan ini, dokter akan memeriksa apakah zat asam methylmalonic terdapat dalam darah pengidap.

Tes schilling. Pengidap akan diminta untuk menelan sejumlah kecil radioaktif vitamin B12, kemudian darahnya akan diperiksa untuk memastikan apakah tubuh menyerap vitamin B12.

Pemeriksaan oleh dokter spesialis sistem pencernaan, spesialis hematologi, dan ahli gizi.

Pengobatan Anemia Defisiensi Vitamin B12 dan Asam Folat
Berbagai penanganan pengobatan yang dapat dilakukan, antara lain:

Pada anemia defisiensi vitamin B12 yang disebabkan oleh makanan, pengidap akan diberikan resep tablet vitamin B12 untuk diminum setiap hari setelah makan.

Pada anemia defisiensi vitamin B12 yang tidak disebabkan oleh makanan, suntikan hydroxocobalamin empat kali setahun untuk seumur hidup dapat diberikan sebagai metode pengobatan.

Pada anemia defisiensi asam folat, untuk meningkatkan kadar folat dalam tubuh, dokter akan memberikan resep tablet asam folat. Tablet asam folat perlu dikonsumsi selama empat bulan, atau lebih. Jika penyebab dasar dari anemia defisiensi folat tidak kunjung hilang, maka konsumsi tablet asam folat bisa seumur hidup.

Pencegahan Anemia Defisiensi Vitamin B12 dan Asam Folat
Langkah pencegahan dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin B12 dan folat. Sumber vitamin B12 yang baik adalah daging, telur, ikan salmon, ikan kod, sereal, produk kedelai, susu, dan produk olahan susu. Bagi vegetarian atau vegan, ada produk pengganti untuk daging dan produk olahan susu. Sedangkan sumber folat yang baik, di antaranya beras cokelat, kol, brussel, brokoli, asparagus, kacang polong, dan kacang arab.

Posted in kesehatan Tagged with:

October 24th, 2020 by publisher

Aorta adalah pembuluh darah paling besar di dalam tubuh manusia yang berfungsi sebagai tempat mengalirnya darah dari jantung ke seluruh tubuh. Adapun aneurisma aorta memiliki arti adanya benjolan yang biasanya terjadi akibat melemahnya otot-otot pada dinding aorta. Aneurisma aorta yang semakin besar dapat pecah dan menyebabkan perdarahan yang hebat yang dapat berakibat fatal.

Gejala Aneurisma Aorta

Biasanya aneurisma aorta tidak memberikan gejala yang jelas hingga pecah. Adapun beberapa gejala yang dapat ditemui pada pengidap aneurisma aorta, antara lain:

Nyeri dada,
Nyeri punggung,
Sulit bernapas,
Sulit menelan,
Sesak napas,
Batuk,
Suara serak, dan
Nyeri perut.
Pada kondisi aneurisma aorta yang pecah dapat terjadi hal berikut:

Nyeri dada ataupun nyeri perut yang semakin memberat. Nyeri biasanya bersifat tajam.
Muntah, keringat dingin, dan pingsan atau tidak sadarkan diri. Kondisi ini merupakan kondisi gawat darurat dan harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.

Penyebab Aneurisma Aorta

Aneurisma terjadi karena adanya bagian dari pembuluh darah yang melemah, sehingga terjadi benjolan yang berisiko untuk pecah sewaktu-waktu. Penyebab pasti dari melemahnya pembuluh darah ini dapat berbeda-beda pada setiap pengidap, di antaranya berhubungan dengan penyakit pembuluh darah, cedera, ataupun karena kondisi yang tidak diketahui penyebabnya.

Terdapat dua jenis aneurisma aorta, antara lain:

Aneurisma Aorta Abdominalis
Aneurisma aorta abdominalis adalah aneurisma aorta yang terjadi di sepanjang aorta di bagian perut. Tipe aneurisma ini merupakan yang paling sering, sekitar 3/4 kasus aneurisma aorta terjadi di bagian abdomen (perut). Penyebab pasti dari aneurisma aorta abdominalis masih belum dapat dipastikan, tetapi kemungkinan terkait dengan aterosklerosis, merokok, tekanan darah tinggi, dan genetik.

Aneurisma Aorta Torakalis
Aneurisma aorta torakalis adalah aneurisma aorta yang terjadi di sepanjang aorta di bagian dada. Tipe aneurisma ini lebih jarang. Kondisi ini biasanya terkait gen ataupun dapat terjadi pada orang yang lahir dengan kondisi katup aorta bikuspid, sindrom marfan, dan sindrom Loeys-Dietz. Penyebab lain yang dapat menyebabkan timbulnya aneurosima aorta ini adalah tekanan darah tinggi, infeksi , aterosklerosis, kolesterol tinggi, dan trauma.
Faktor Risiko Aneurisma Aorta

Faktor risiko terjadinya aneurisma aorta penting untuk diketahui, sebabnya aneurisma aorta seringkali ditemukan saat pemeriksaan untuk alasan lain dan tidak ada gejala khusus. Oleh karena itu, skrining sangat penting dilakukan bagi yang memiliki hal-hal berikut:

Berusia 65 atau lebih,
Laki-laki,
Merokok,
Tekanan darah tinggi,
Kolesterol tinggi,
Diabetes melitus,
Memiliki riwayat keluarga dengan aneurisma, dan
Memiliki kelainan genetik, misalnya sindrom marfan

Diagnosis Aneurisma Aorta

Diagnosis aneurisma aorta torakalis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan rontgen, ekokardigram, CT scan, MRI, ataupun USG. Seringkali diagnosis penyakit ini didapatkan secara tidak sengaja pada saat pemeriksaan medis rutin ataupun untuk alasan lain.

Pengobatan dan Efek Samping Aneurisma Aorta

Tujuan utama dari terapi aneurisma aorta adalah untuk mencegah pecahnya pembuluh darah aorta. Dokter akan menentukan dari ukuran dan faktor risiko lain yang ada pada pengidap untuk menentukan jenis terapi.

Untuk aneurisma aorta abdominalis, terapi biasanya ditentukan berdasarkan ukuran.

Ukuran 3—4,4 cm : ukuran masih kecil, maka direkomendasikan dilakukan pemeriksaan ultrasound rutin setiap tahun untuk memantau pembesaran aneurisma.
Ukuran 4,5—5,4 cm : ukuran menengah, maka disarankan dilakukan pemeriksaan dengan ultrasound setiap tiga bulan untuk memantau pembesaran aneurisma.
Ukuran 5,5 cm atau lebih : ukuran besar, biasanya akan disarankan dilakukan tindakan pembedahan untuk mencegah pembesaran lebih lanjut atau pecahnya aneurisma.
Untuk aneurisma aorta torakalis, pengobatan diberikan berdasarkan ukuran aneurisma, beratnya gejala yang dialami, dan risiko pembedahan. Terapi aneurisma aorta torakalis meliputi:

Pemantauan rutin

Jenis terapi ini merupakan pilihan terapi bagi aneurisma kecil yang tidak berisiko untuk pecah. BIasanya akan disarankan dilakukan pemeriksaan dengan CT scan atau MRI rutin setiap 6 bulan sekali (tergantung ukuran aneurisma) untuk melihat pembesaran aneurisma.

Pembedahan konvensional

Prosedur ini biasanya direkomendasikan pada kondisi aneurisma yang besar dan rentan untuk pecah. TIndakan pembedahan konvensional dilakukan dengan metode bius umum dan memasangkan alat khusus (graft) untuk mencegah aliran darah menekan aneurisma lebih lanjut.

Pembedahan endovaskular

Tindakan pembedahan yang lebih tidak invasif. Metode ini menggunakan alat khusus yang dimasukkan ke dalam aorta melalui sobekan kecil atau melalui kateter yang dimasukkan di pembuluh darah kaki.
Pencegahan Aneurisma Aorta

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena aneurisma aorta adalah dengan:

Tidak merokok
Makan-makanan yang sehat
Rutin berolahraga
Mempertahankan berat badan yang normal
Tidak mengonsumsi alkohol
Segera melakukan pengobatan apabila mengidap darah tinggi atau hipertensi

Posted in kesehatan Tagged with:

October 24th, 2020 by publisher

Pada tubuh yang sehat, sel darah merah memiliki waktu hidup sekitar 120 hari sebelum akhirnya hancur dan digantikan oleh sel darah merah baru. Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan oleh kondisi ketika sel darah merah hancur sebelum waktunya. Pada keadaan awal, sumsum tulang belakang akan berusaha mengatasi kekurangan darah merah dengan menghasilkan sel darah merah dengan lebih cepat. Namun, jika kondisi hancurnya sel darah merah berlangsung terus-menerus, usaha kompensasi dari sumsum tulang akan gagal dan terjadilah anemia. Kondisi anemia hemolitik dapat merupakan kondisi yang ringan, tetapi dapat pula berat dan mengancam nyawa.

Faktor Risiko Anemia Hemolitik
Berbagai faktor risiko anemia hemolitik, antara lain:

Bayi baru lahir.

Memiliki riwayat penyakit autoimun.

Memiliki riwayat keluarga dengan talasemia.

Menerima transfusi darah.

Mengonsumsi obat-obatan.

Penyebab Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik bisa terbagi berdasarkan penyebabnya, yaitu menurun (herediter) dan didapat. Hemolisis atau hancurnya sel darah merah pada anemia hemolitik herediter biasanya disebabkan karena gangguan atau kerusakan membran, kerusakan enzim, ataupun hemoglobin yang tidak normal. Berbagai penyebab anemia hemolitik herediter, antara lain:

Defisiensi glukosa 6 fosfat dehidrogenase.

Talasemia.

Sferositosis herediter.

Anemia sel sabit (sickle cell anemia).

Sedangkan penyebab hemolisis didapat, antara lain:

Gangguan sistem imun, misalnya pada penyakit Lupus Eritematosus.

Zat kimia dan obat-obatan (misalnya penisilin, metildopa, ribavirin).

Infeksi.

Transfusi darah yang tidak cocok.

Eritroblastosis fetalis.

Gejala Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik yang ringan dapat tidak menimbulkan gejala. Pada fase selanjutnya, beratnya keluhan sejalan dengan jumlah kekurangan sel darah merah di dalam tubuh. Berikut adalah gejala yang cenderung umum dialami banyak orang dengan anemia hemolitik, seperti:

Pucat.

Lemas.

Pusing.

Mudah merasa lelah.

Tekanan darah rendah.

Demam.

Detak jantung cepat.

Sesak napas.

Nyeri dada.

Nyeri perut.

Perubahan warna kulit.

Warna urine yang menjadi lebih gelap.

Pembesaran hati.

Pembesaran limpa.

Luka pada kaki.
Diagnosis Anemia Hemolitik
Diagnosis anemia hemolitik biasanya diawali dengan pertanyaan terkait riwayat dan gejala medis yang dirasakan. Dalam proses pengecekan kondisi fisik, sang dokter memulai melakukan pengecekan dari kulit yang pucat atau kuning. Dokter juga akan melakukan penekanan dengan lembut di area yang berbeda dari perut pasien untuk memeriksa kelembutan jika ada pembesaran pada hati atau limpa.

Apabila dokter menemukan indikasi anemia hemolitik, tindakan lebih lanjut akan dilakukan, seperti pemeriksaan darah yang meliputi:

Pemeriksaan Darah Lengkap
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk melihat adanya anemia, infeksi yang mungkin dapat menjadi penyebab anemia atau kemungkinan gangguan darah yang berisiko menyebabkan anemia hemolitik. Selain itu, pemeriksaan retikulosit dapat menilai akan adanya peningkatan produksi sel darah merah yang dapat menjadi indikasi adanya anemia hemolitik. Sampel darah akan diambil dan diperiksa dengan alat khusus.

Pemeriksaan Sel Darah Tepi
Pemeriksaan ini dapat menghitung jumlah sel darah muda, serta kelainan bentuk dan ukuran darah yang dapat terkait dengan anemia hemolisis. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil sampel darah dan dilihat di bawah mikroskop untuk pemeriksaan bentuk dan ukuran sel darah merah.

Serum Laktat Dehidrogenase (LDH), serum haptoglobin, dan bilirubin Indirek
Kenaikan kadar LDH, perubahan kadar serum haptoglobin dan kenaikan kadar bilirubin indirek dapat membantu dokter mendiagnosis kondisi dan jenis anemia hemolitik.

Pemeriksaan Skrining untuk Defisiensi G6PD

Pemeriksaan Skrining Thalasemia

Tes Urine

Pemeriksaan Pencitraan (Ultrasonografi, Rontgen Dada, dan Elektrokardiografi)

Ultrasonografi digunakan untuk melihat ukuran hati dan limpa. Sedangkan rontgen dada dan elektrokardiografi, biasanya dilakukan untuk mengevaluasi kondisi jantung dan paru.
Pengobatan Anemia Hemolitik
Terapi anemia hemolitik dapat dilakukan tergantung dari beberapa faktor, seperti berapa usia pengidap dan kesehatan secara keseluruhan dan riwayat medis. Selain itu, pengobatan diberikan sesuai dengan penyebabnya. Beberapa hal yang akan dipertimbangkan oleh dokter untuk memilih jenis terapi adalah tingkat dan penyebab kondisi serta toleransi untuk obat, prosedur, dan terapi.

Kemungkinan terapi yang dapat diberikan pada pengidap anemia hemolitik, antara lain:

Terapi asam folat.

Kortikosteroid. Pemberian kortikosteroid diberikan pada pengidap anemia hemolitik dengan penyakit autoimun.

Imunoglobulin G intravena.

Terapi eritropoetin. Terapi ini diberikan pada pasien dengan gagal ginjal.

Tidak melanjutkan konsumsi obat-obatan yang berisiko menimbulkan anemia hemolitik.

Pada beberapa kasus, individu yang memiliki tingkat anemia hemolitik dengan keparahan yang tinggi memerlukan rawat inap dan perawatan sebagai berikut:

Transfusi darah. Terapi ini biasanya diberikan kepada pengidap anemia hemolitik berat atau dengan gangguan jantung/paru, penyakit talasemia atau penyakit sel sabit. Salah satu efek samping dari terapi ini adalah penumpukan besi di dalam tubuh akibat transfusi berulang. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan terapi kelasi besi.

Operasi pengangkatan limpa. Tindakan ini dilakukan sebagai pilihan dalam kasus-kasus hemolisis yang tidak merespon kortikosteroid dan imunosupresan.
Pencegahan Anemia Hemolitik
Untuk kondisi anemia hemolitik yang diturunkan dari orang tua tidak dapat dicegah. Namun, hal tersebut memiliki pengecualian, seperti kekurangan glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD).

Jika terlahir dengan defisiensi G6PD, dapat menghindari zat yang dapat memicu kondisi tersebut. Misalnya, hindari kacang fava, naftalena (zat yang ditemukan di beberapa ngengat), kamper, dan obat-obatan tertentu. Ada juga beberapa jenis anemia hemolitik yang dapat dicegah, seperti reaksi terhadap transfusi darah yang dapat menyebabkan anemia hemolitik. Ini membutuhkan pencocokan tipe-tipe darah yang seksama antara donor darah dan penerima.

Posted in kesehatan Tagged with:

October 24th, 2020 by publisher

Jabatan Dirjen Pelayanan Kesehatan Diregulasi Ulang

Menteri Kesehatan RI dokter. Terawan Agus Putranto mewisuda Profesor. Kadir bagaikan Ketua Jenderal( Dirjen) Jasa Kesehatan, Departemen Kesehatan, Kamis( 22 atau 10) di bangunan Kemenkes, Jakarta.

Tadinya Profesor. Kadir berprofesi bagaikan Kepala Tubuh Pengembangan serta Pemberdayaan SDM Kesehatan, Kemenkes. Mulai dikala ini beliau yang bernama komplit Profesor. dokter. Abdul Kadir, Ph. D, Sp. THT- KL( K), Marikh sah jadi Dirjen Jasa Kesehatan menolong tingkatkan mutu jasa kesehatan di Indonesia.

Menkes Terawan berkata pergantian kedudukan ialah alat pembinaan serta pengembangan aparatur dalam penyusunan badan. Penyusunan butuh dicoba buat tingkatkan kemampuan serta mutu jasa khalayak.

Sebab itu aku memohon spesialnya pada kerabat Dirjen Yankes supaya lekas berkoordinasi melaksanakan peneguhan dengan sebagian arahan besar pratama di area Direktorat Jenderal Jasa Kesehatan, buat meruncingkan pemikiran serta menyerasikan aksi tahap supaya program aktivitas terselenggara dengan bagus, tuturnya.

Kedudukan yang diamanahkan, lanjut Menkes Terawan, di satu bagian ialah keyakinan serta hidmat, tetapi di bagian lain ialah tantangan yang wajib dialami dengan bagus.

Aku mengajak kerabat Dirjen Yankes buat melakukan tepercaya agung ini dengan sebaik- baiknya buat perkembangan pembangunan orang di aspek kesehatan spesialnya di era endemi COVID- 19, tutur Menkes Terawan.

Menkes Terawan menegaskan kalau dalam profesi tidak bisa bertugas sendiri tetapi wajib berlagak terbuka serta mau menyambut masukan dari seluruh pihak. Tumbuhkan atmosfer mendukung buat menjamin kelancaran tugas- tugas yang diemban.

Aku memohon supaya kerabat bisa melakukan kewajiban dengan benar- benar cocok peraturan serta perundang- undangan, ucapnya.

Posted in kesehatan

October 24th, 2020 by publisher

Ulas Kemangi Untuk Kesehatan Untuk Diabetes

Kemangi merupakan salah satu tumbuhan yang mempunyai aroma khas pada daunnya. Tidak cuma itu, daun kemangi menaruh segudang khasiat yang amat bermanfaat untuk kesehatan badan.

Tidak hanya bagaikan materi mengkonsumsi dengan aroma yang khas, tumbuhan kemangi pula bisa berguna bagaikan tumbuhan herbal.

Daun kemangi diyakini sanggup menyembuhkan bermacam berbagai penyakit, semacam batu berdahak serta flu.

Tidak hanya itu, daun kemangi pula berguna buat melindungi kesehatan alat jantung orang, menyehatkan serta memperlancar pencernaan, kurangi bau mulut, sampai mengendalikan gula darah.

Posted in kesehatan

October 24th, 2020 by publisher

Amenorrhea adalah suatu kondisi ketika wanita tidak mengalami menstruasi atau datang bulan. Amenorrhea terjadi jika seorang wanita tidak mengalami menstruasi selama 3 siklus berturut-turut atau lebih, atau jika hingga berusia 15 tahun belum pernah mengalami menstruasi. Amenorrhea terbagi menjadi dua, yaitu:

Amenorrhea primer, yaitu ketika seorang perempuan telah mengalami perubahan lain pada masa pubertas, tetapi belum mengalami menstruasi dan berusia 15 tahun.

Amenore sekunder, yaitu kondisi tidak haid selama lebih dari tiga siklus atau 6 bulan.

Faktor Risiko Amenorrhea
Beberapa faktor risiko terjadinya amenorrhea, antara lain:

Riwayat keluarga yang mengalami amenorrhea.

Gangguan pola makan, seperti anoreksia atau bulimia.

Olahraga dengan intensitas tinggi.

Penyebab Amenorrhea
Beberapa penyebab amenorrhea, antara lain:

Organ reproduksi yang tidak berkembang dengan sempurna, seperti tidak adanya uterus atau vagina, adanya penyempitan dan penyumbatan pada leher rahim (serviks), serta vagina yang terbagi menjadi 2 bagian (sekat vagina).

Perubahan hormon alami, seperti pada masa kehamilan, menyusui, dan menopause.

Disebabkan oleh obat, seperti obat kontrasepsi, antipsikotik, antidepresan, antihipertensi, kemoterapi, serta beberapa antialergi.

Berat badan 10 persen lebih rendah dari berat badan normal dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang memicu berhentinya ovulasi, seperti pada pengidap bulimia dan anoreksia.

Stres yang memicu perubahan fungsi hipotalamus pada otak, yang merupakan daerah yang mengontrol siklus menstruasi.

Olahraga atau aktivitas fisik yang berlebihan dapat mengganggu siklus menstruasi.

Gangguan yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon, seperti pada sindrom ovarium polikistik, gangguan tiroid, tumor hipofisis, atau menopause dini.

Gejala Amenorrhea
Beberapa gejala amenorrhea, antara lain:

Tidak menstruasi.

Rambut rontok.

Nyeri kepala.

Nyeri panggul

Timbul jerawat.

Gangguan penglihatan.

Tumbuh bulu-bulu halus pada wajah.

Keluar cairan dari puting susu.
Diagnosis Amenorrhea
Dokter akan mendiagnosis amenorrhea dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang, seperti:

Ultrasonografi (USG) untuk menentukan penyebab amenorrhea.

Pencitraan resonansi magnetik (MRI) pada otak jika diduga terdapat kelainan kelenjar hipofisis atau hipotalamus.

Tomografi komputer (CT scan) pada bagian perut dan panggul untuk melihat kelainan rahim atau indung telur.

Komplikasi Amenorrhea
Beberapa komplikasi yang diakibatkan amenorrhea, antara lain:

Infertilitas atau ketidaksuburan, oleh karena tidak terjadi ovulasi, sehingga tidak dapat hamil.

Osteoprosis, disebabkan oleh kadar estrogen yang rendah.
Pengobatan Amenorrhea
Pengobatan amenorrhea diberikan berdasarkan penyebabnya, antara lain:

Operasi, terapi hormon atau keduanya dilakukan apabila amenorrhea disebabkan oleh cacat bawaan lahir yang menyebabkan kelainan anatomi.

Pemberian obat seperti medroksiprogesteron pada wanita dengan adult onset hiperplasia adrenal, hipotiroidisme, dan kegagalan ovarium dini.

Penurunan berat badan dengan diet, olahraga, serta pemberian metformin, dapat dilakukan pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik (SOPK).

Konsultasi dengan dokter spesialis genetik, pada wanita yang mengalami kondisi tidak haid yang diakibatkan karena faktor keturunan.
Pencegahan Amenorrhea
Beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan, antara lain:

Perubahan pola hidup sehat.

Cukup beristirahat.

Hindari berolahraga atau beraktivitas berlebihan.

Jaga pola makan yang sehat dengan tidak menahan nafsu makan.

Hindari stres yang berkepanjangan.

Catat dan perhatikan siklus menstruasi dengan saksama.

Posted in kesehatan Tagged with:

October 24th, 2020 by publisher

Alopecia areata merupakan penyakit autoimun, yaitu kondisi di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat pada tubuh sendiri. Penyakit ini menyerang folikel rambut. Folikel rambut merupakan struktur tempat rambut akan tumbuh. Penyakit ini menyebabkan folikel rambut akan menjadi semakin kecil dan berhenti memproduksi rambut, awalnya menimbulkan rambut rontok hingga mengakibatkan kebotakan jika dibiarkan.

Faktor Risiko Alopecia Areata
Berbagai faktor risiko alopecia areata, antara lain:

Riwayat penyakit yang sama pada anggota keluarga;
Pertambahan usia;
Penyakit autoimun lain, seperti diabetes tipe 1, rheumatoid arthritis, atau lupus eritematosus.
Memiliki warna, bentuk, tekstur, atau ketebalan kuku yang abnormal.
Masalah psikologis, seperti stres, depresi, cemas, atau gangguan paranoid.

Penyebab Alopecia Areata
Gangguan autoimun menjadi penyebab alopecia areata. Terdapat beberapa pemicu penyakit ini, bisa disebabkan karena virus, trauma, perubahan hormon, tekanan fisik, maupun tekanan psikis. Pengidap penyakit autoimun lainnya, seperti rheumatoid arthritis atau diabetes tipe 1 umumnya juga sering mengalami penyakit alopecia areata.
Gejala Alopecia Areata
Gejala yang disebabkan alopecia areata, antara lain:

Kebotakan berpola bulat pada satu atau beberapa tempat yang tadinya ditumbuhi rambut, yang bersifat sementara tapi dapat juga permanen.
Kebotakan yang dapat meluas hingga menyeluruh di kulit kepala (alopecia totalis) dan bahkan di seluruh tubuh (alopecia universalis).
Gangguan pada kuku jari tangan dan jari kaki, berupa kuku berubah bentuk, memiliki garis putih dengan permukaan yang tipis dan kasar, atau terbelah.
Kebotakan yang dapat disertai sensasi rasa terbakar atau gatal pada kulit kepala.
Diagnosis Alopecia Areata
Dokter akan mendiagnosis alopecia areata dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti:

Analisis sampel kulit kepala dengan menggunakan mikroskop di laboratorium, untuk memastikan penyebab alopecia areata.
Pemeriksaan darah jika diduga menderita penyakit autoimun, untuk memeriksa antibodi yang tidak normal, kadar C-reactive protein, zat besi, hormon tiroid, hormon testosteron, follicle stimulating hormone (FSH), dan luteinizing hormone (LH).

Komplikasi Alopecia Areata

Beberapa komplikasi alopecia areata, antara lain:

Kebotakan menjadi bersifat permanen.
Memiliki risiko yang lebih besar untuk mengidap atau memiliki keluarga dengan penyakit asma, alergi, dan penyakit autoimun lain, seperti penyakit tiroid dan vitiligo.
Gangguan psikologis berupa gangguan emosional akibat kepercayaan diri yang hilang, yang dapat berkembang menjadi depresi.

Pengobatan Alopecia Areata
Sampai saat ini, pengobatan yang cocok untuk menyembuhkan penyakit alopecia areata masih belum ditemukan. Pengobatan yang diberikan bertujuan untuk merangsang pertumbuhan rambut agar kembali tumbuh lebih cepat. Obat-obatan yang diberikan dokter, antara lain:

Minoxidil untuk merangsang pertumbuhan rambut kembali.
Kortikosteroid untuk menekan sistem kekebalan tubuh.
Anthralin untuk memengaruhi sistem imun pada kulit.
Diphencyprone (DPCP) untuk mengalihkan sistem pertahanan tubuh.
Krim tabir surya dan rambut palsu atau topi untuk melindungi kulit kepala dari sinar matahari.
Bulu mata palsu dan kacamata yang berguna untuk melindungi mata pengidap alopecia areata dari debu.
Pencegahan Alopecia Areata
Terdapat beberapa upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah alopecia areata, antara lain :

Membatasi penggunaan perangkat perawatan rambut yang berisiko merusak atau membuat rambut kering.
Membatasi penggunaan bahan kimia untuk rambut.

 

Posted in kesehatan Tagged with:

October 24th, 2020 by publisher

Tidak semua orang dapat merasa nyaman menghadapi udara dingin. Dalam dunia medis dikenal istilah urtikaria (alergi dingin) yaitu munculnya bilur yang terasa gatal dan kulit menjadi kemerahan. Alergi dingin yang dialami setiap orang berbeda-beda cirinya. Bagi sebagian orang, ada yang dapat kehilangan kesadaran, tekanan darah turun, hingga berakibat fatal. Siapa saja dapat terkena alergi ini, namun orang pada usia remaja adalah yang paling sering terkena alergi dingin. Pada remaja, alergi dingin biasanya dapat menghilang sepenuhnya dalam beberapa tahun.
Gejala Alergi Dingin
Tangan bengkak saat bersentuhan dengan benda dingin.
Muncul bilur pada kulit yang terasa gatal.
Biibir dan tenggorokan bengkak saat mengonsumsi makanan & minuman dingin
Kulit kemerahan.
Jika kulit terasa semakin hangat gejala akan semakin parah.

Penyebab Alergi Dingin
Alergi dapat muncul saat kulit berada dalam cuaca dingin dan berisiko muncul dalam kondisi yang berangin dan lembab. Penelitian menemukan bahwa alergi dingin disebabkan oleh pelepasan histamin dan zat kimia dalam aliran darah yang dipicu oleh udara dingin. Namun demikian, belum ditemukan secara pasti kenapa tubuh bereaksi demikian terhadap udara dingin.
Pengobatan Alergi Dingin
Pada kasus alergi dingin yang parah bisa berakibat fatal seperti pembengkakan pada tenggorokan dan lidah sehingga menyebabkan kesulitan bernafas, reaksi anafilaksis penyebab tekanan darah turun, jantung berdebar, pingsan, hingga pembengkakan lengan dan kaki (torso).

Umumnya, alergi dingin dapat menghilang dengan sendirinya dalam kurun waktu mingguan hingga bulan, namun ada pula yang bertahan cukup lama. Untuk itu, jika tiba-tiba merasa muncul tanda-tanda alergi dingin, sebaiknya langsung periksakan ke dokter.
Pencegahan Alergi Dingin
Bagi pengidap alergi dingin, disarankan untuk tidak berenang di air dingin. Saat seluruh permukaan kulit terpapar dingin dapat menimbulkan reaksi parah sehingg menyebabkan pengidap kehilangan kesadaran hingga tenggelam.

Posted in kesehatan Tagged with:

October 24th, 2020 by publisher

Alergi susu bisa diartikan sebagai reaksi sistem kekebalan tubuh yang dikarenakan produk yang terbuat atau mengandung susu. Umumnya dialami oleh anak-anak, terutama saat mengonsumsi susu sapi atau produk yang mengandung susu sapi. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan kondisi ini dapat disebabkan oleh susu kambing, domba, maupun hewan menyusui lainnya. Protein susu yang paling sering menyebabkan alergi adalah whey dan kasein.

Faktor Risiko Alergi Susu
Sebagian orang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami alergi susu (rentan) dibanding orang lain. Faktor risiko yang dapat menjadi pemicunya antara lain:

Terdapat riwayat alergi pada anggota keluarganya, misalnya asma, eksim, rhinitis, atau hay fever.
Usia bayi dan anak-anak lebih mudah mengidap alergi susu, karena sistem pencernaan yang belum sempurna. Namun, kondisi ini akan membaik seiring pertambahan usia dan kematangan saluran pencernaan.
Terdapat riwayat dermatitis atopik atau peradangan kulit yang disebabkan alergi pada anak.
Mengidap alergi pada makanan atau minuman lain yang umumnya berkembang setelah alergi susu timbul.

Penyebab Alergi Susu
Penyebab utama alergi susu adalah terjadinya gangguan pada sistem kekebalan tubuh pengidap yang salah mengidentifikasi protein pada susu sebagai zat yang membahayakan tubuh. Hal ini memicu sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi Imunoglobilin E untuk menetralkan zat pemicu alergi tersebut dan melepaskan histamin ke dalam darah, sehingga menimbulkan gejala alergi susu. Alergi susu berbeda dengan intoleransi laktosa. Jika alergi disebabkan karena gangguan sistem kekebalan tubuh, maka intoleransi laktosa terjadi karena tubuh belum mampu menerima zat tertentu, dan tidak ada kaitannya dengan sistem kekebalan tubuh si pengidap.
Gejala Alergi Susu
Gejala alergi biasanya timbul satu jam setelah mengonsumsi susu. Gejalanya antara lain:

Muntah;
Napas berbunyi ngik;
Kemerahan pada kulit;
Gatal;
Bengkak;
Diare atau mencret yang dapat disertai darah pada kotorannya;
Kram perut;
Batuk;
Hidung berair;
Mata berair;
Ruam kemerahan gatal di sekitar mulut; dan
Adanya kolik pada bayi, ditandai dengan bayi menangis tanpa henti dan tanpa sebab yang jelas.
Pada reaksi alergi berat atau anafilaksis dapat timbul gejala sebagai berikut:

Saluran napas dan tenggorokan tersumbat, sehingga mengakibatkan sesak napas;
Tekanan darah turun drastis; dan
Wajah kemerahan dan gatal pada seluruh tubuh.
Tindakan pertolongan harus dilakukan jika ada analfilaksis atau gejala alergi berat. Pengidap harus segera dibawa ke rumah sakit.
Diagnosis Alergi Susu
Beberapa langkah yang akan dokter lakukan untuk menegakkan diagnosis alergi susu adalah sebagai berikut:

Menanyakan riwayat perjalanan alergi pada pengidap atau orangtua pengidap (bayi dan anak-anak) meliputi makanan dan minuman apa saja yang pernah dimakan, gejala alergi yang timbul, dan apakah gejala berkurang atau menghilang ketika makanan atau minuman dihentikan.
Pemeriksaan pada fisik untuk memeriksa indikasi alergi pada tubuh pengidap.
Pemeriksaan darah untuk memeriksa kadar antibodi Imunoglobulin E dalam darah pengidap.
Pemeriksaan melalui kulit, umumnya dilakukan dengan membuat luka kecil pada permukaan kulit si pengidap. Luka kecil pada kulit tersebut akan diletakan sejumlah kecil protein susu. Jika saat pengamatan muncul benjolam kecil yang gatal pada daerah tersebut, menandakan adanya alergi susu.

Pengobatan Alergi Susu
Pada anak, alergi susu akan menghilang seiring dengan pertambahan usia. Namun, pada beberapa kasus, ada anak yang tetap memiliki alergi susu hingga usia dewasa. Tindakan pengobatan yang yang paling utama adalah dengan menghindari susu atau produk makanan yang mengandung susu.

Obat-obatan yang sering digunakan untuk mengurangi gejala alergi adalah:

Antihistamin yang digunakan untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat gejala yang disebabkan oleh reaksi alergi.
Adrenalin untuk mengatasi gejala alergi berat atau anafilaksis yang diberikan dengan cara disuntikkan oleh dokter.
Pencegahan Alergi Susu
Menghindari alergi susu adalah dengan tidak mengonsumsi susu atau produk yang mengandung susu maupun protein susu. Beberapa produk yang mengandung susu atau proteinnya adalah mentega, yogurt, pudding, kue, es krim, keju, bahan makanan yang mengandung laktosa atau laktat, permen, cokelat, karamel, dan produk yang mengandung whey dan kasein.

Pada ibu menyusui, cara mencegah alergi susu sapi pada bayi adalah dengan memberikan ASI eksklusif tanpa penambahan susu formula atau minuman dan makanan lainnya selama 6 bulan pertama kehidupan bayi. ASI dianggap sebagai makanan terbaik dan bisa mencegah alergi susu pada bayi. Jika bayi sudah terdiagnosis memiliki alergi susu sapi, ibu dianjurkan untuk tidak mengonsumsi susu sapi atau produk yang mengandung susu sapi agar, zat tersebut tidak masuk melalui ASI kepada bayinya.

Jika ASI tidak dapat diberikan kepada bayi atau anak dengan usia lebih dewasa, terdapat beberapa alternatif pengganti. Pemberian susu formula hipoalergenik, susu kedelai, atau susu beras (rice milk) bisa menjadi alternatif pengganti untuk mencegah gejala yang ditimbulkan oleh alergi susu. Diskusikan dengan dokter jika anak memiliki gejala atau indikasi akan alergi susu dan berikan susu formula pengganti sesuai dengan anjuran dokter.

Posted in kesehatan Tagged with: ,