Depresi Bisa Akibatkan Sex Tidak Berkualitas

Depresi Bisa Akibatkan Sex Tidak Berkualitas

Gangguan seksual kerap ditimpakan terhadap pihak wanitanya. Misalnya, pasangan tak kunjung miliki keturunan, maka wanita yang dianggap mandul.

Padahal, kontribusi gangguan seksual, baik pria dan wanita miliki prosentase  nyaris sama.

Dr Riyadh Firdaus SpAn-KNA, Kepala Instalasi Pelayanan Terpadu RSCM Kencana mengatakan, penelitian mencatat kira-kira 15-20 % pasangan di dunia miliki gangguan infertilitas.

Proporsi gangguan pasangan pria dan wanita, kata Riyadh, kurang lebih sama.

Namun, tetap banyak orang belum menyadarinya dan memeriksakan pasangannya terhadap awal gangguan, demikian terhitung persoalan seksual.

Penelitian mencatat, persoalan angka gangguan seksual terhadap pria raih 31 % dan 43 % terhadap perempuan.

Namun penyembuhan secara baik dan profesional terhadap kasus-kasus berikut tetap kurang.

Mengingat faedah seksual melibatkan proses kompleks yaitu proses syaraf, hormon, dan pembuluh darah.

Kelainan terhadap proses ini, baik disebabkan penyakit, obat-obatan, style hidup, atau karena lain, bisa merubah proses ereksi, ejakulasi, dan orgasme.

Prof Dr dr Tjhin Wiguna, SpKJ (K), Departemen Medik Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI- RSCM menjelaskan, penelitian menemukan bahwa disfungsi seksual terhadap pria ternyata pemicunya gangguan jiwa tertentu.

Beberapa persoalan kejiwaan seperti kegalauan  menetap,  persoalan marital yang membawa dampak terjadinya disfungsi seksual.

Selain itu, depresi, perasaan bersalah, stres, trauma, adiksi pornografi yang membawa dampak munculnya pornography induced erectile dysfunction.

“Individu bersama disfungsi seksual perlu lakukan konsultasi bersama psikiater sehingga bisa dikenali secara dini persoalan kesehatan jiwa yang bisa saja ada sehingga bisa diberikan tatalaksana yang sesuai,” kata Prof Tjhin sementara pembukaan Men’s Health & Couple’s Well-being Clinic RSCM Kencana, Selasa (27/10/2020).

Pada umumnya tatalaksana di dalam bidang psikiatri diberikan bersama rancangan biopsikososial yaitu terapi yang berbentuk biologik seperti pemberian psikfarmakoterapi cocok  kebutuhan pasien.

Selain itu, terapi psikososial seperti psikoterapi suportif memiliki tujuan untuk mendukung atau mempetahankan proses ego sehingga terus bisa berguna  baik.

Serta memperbaiki faedah adaptif pasien dan mendukung pasien sehingga miliki rasa percaya diri lebih  optimal.

Perawatannya psikoterapi berbentuk re-edukatif seperti terapi kognitis tingkah laku untuk mendukung pasien mengetahui berbagai asumsi negatif yang mencetuskan munculnya emosi maladaptif.

Menuntun pasien melacak berbagai alternatif asumsi  lebih adaptif sehingga bisa mengatasi emosi negatif dan bisa membawa dampak pasien jadi lebih nyaman.

“Jika diperlukan terhitung bisa dikerjakan psikoterapi yang berorientasi psikoanalitik untuk merekonstruksi kepribadian pasien atau menaikkan tilikan pasien terhadap dirinya dan terhitung sekitarnya,” tuturnya.

Menurut Prof Tjhin, persoalan gangguan seksual tidak bisa dianggap sepele karena seandainya dibiarkan berlarut-larut bisa berujung kematian, paling fatal bahkan hingga bunuh diri.

Penanganan yang pas dan komprehensif perlu dikerjakan sedini bisa saja begitu ada gangguan seksual.

October 29th, 2020 by