Penyakit-penyakit Ini Bisa Bikin Seseorang Lumpuh dan Tak Bisa Bergerak

Tidak ada orang yang ingin terserang penyakit, apapun bentuknya. Penyakit yang dikategorikan ringan seperti flu saja bisa membuat produktivitas berkurang hingga beberapa hari.

Apalagi jika penyakit tersebut demikian parah hingga membuat pengidapnya hanya mampu terbaring di ranjang rumah sakit. Selain rasa nyeri, kualitas hidup juga akan menurun karena harus bergantung pada orang lain.

Meningitis merupakan salah satu penyakit yang bisa membuat seseorang tak berdaya. Penyakit inilah yang menyerang almarhum Olga Syahputra dan membuatnya harus terbaring selama setahun lebih di rumah sakit.

Situs WebMD menyebut meningitis sejatinya tergolong penyakit yang jarang ditemui. Penyebabnya sendiri beragam namun rata-rata karena infkesi, ada yang karena virus, bakteri, parasit dan jamur.

Baca juga: ‘Setiap 6 Detik’; Catatan Kecil Menyambut Hari Stroke Sedunia

Gejala umum meningitis adalah nyeri otot dan sendi, demam dan bersin atau batuk, sangat mirip dengan influenza. Namun jika diperhatikan lebih jelas, orang dewasa yang mengidap meningitis biasanya juga mengalami kulit pucat, bibir biru serta leher yang terasa kaku. Pasien juga sering dilaporkan mengalami sensitivitas terhadap cahaya, sering mengantuk dan mudah merasa bingung.

WHO menyebut 50 persen pasien meningitis meninggal dunia. Hal ini bukan berarti meningitis tak bisa disembuhkan, namun lebih kepada terlambatnya penanganan akibat gejalanya yang mirip influenza. Jika ada anggota keluarga atau kelompok kloter yang dicurigai mengidap meningitis, segera bawa ke rumah sakit untuk mendapat pengobatan.

Selain meningitis, penyakit lainnya yang membuat seseorang tak berdaya dan hanya bisa terbaring di ranjang adalah stroke. Stroke secara umum merupakan pecahnya pembuluh darah yang terjadi di otak.

Dalam tulisannya yang berjudul ‘Setiap 6 Detik’; Catatan Kecil Menyambut Hari Stroke Sedunia, Dr dr Rizaldy Pinzon, MKes, SpS menyebut Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan kanker, dan merupakan penyebab kecacatan nomor satu bagi orang yang selamat dari serangan stroke.

Data menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen pasien stroke di dunia hidup di negara berkembang. Peningkatan kejadian stroke di beberapa Negara Asia (Cina, India, dan Indonesia) ditengarai akibat pengaruh perubahan pola hidup, polusi, dan perubahan pola konsumsi makanan.

Faktor risiko stroke seringkali tidak bergejala. Pasien datang berobat pada saat sudah muncul gejala akibat kerusakan organ. Hal inilah yang menyebabkan hipertensi dan dislipidemia (kadar kolesterol darah yang tinggi) dikenal sebagai ‘the silent killer’.

Gejala muncul ketika kerusakan organ target sudah sedemikian parahnya. Kampanye untuk terus menerus mewaspadai peningkatan tekanan darah harus dilakukan. Pengukuran tekanan darah secara massal sangat dianjurkan. Apabila tekanan darah seseorang ada di atas angka 140/90 mmHg dalam 2 kali pengukuran, maka kondisi tersebut sesuai dengan kriteria hipertensi.

Stroke harus dicurigai pada semua kasus gangguan fungsi saraf. Misalnya kelumpuhan anggota badan, gangguan bicara, wajah perot, dan penurunan kesadaran yang terjadi secara mendadak. Pengobatan stroke yang optimal dimulai dengan memastikan diagnosis dan jenis patologi stroke.

Memang tidak hanya dua penyakit ini yang dapat menyebabkan seseorang tak bisa bergerak dan hanya terbaring di rumah sakit. Meski begitu, dua penyakit ini merupakan penyakit dengan tingkat keparahan yang tinggi.

October 14th, 2020 by