Penyebab Atresia Bilier

Pada kondisi normal, cairan empedu mengalir ke usus untuk membantu menghancurkan lemak dan menyerap vitamin ke dalam tubuh, serta membuang hasil pemecahan sel darah merah dan kelebihan kolesterol didalam tubuh. Atresia bilier adalah kondisi di mana terdapat gangguan aliran cairan empedu. Akibatnya, cairan empedu tidak dapat menuju usus, terakumulasi di dalam hati, dan pada akhirnya menimbulkan kerusakan hati (sirosis). Kelainan ini merupakan salah satu penyakit yang jarang terjadi dan khas terjadi pada bayi baru lahir. Terdapat dua bentuk atresia bilier, yaitu perinatal dan postnatal.

Gejala Atresia Bilier
Pada bentuk perinatal, gejala biasanya timbul pada usia sebelum 2 minggu, sedangkan pada tipe postnatal, keluhan biasanya baru tampak pada usia 2–8 minggu. Gejala awal dari atresia bilier adalah kulit dan bagian mata yang putih (sklera) menjadi berwarna kuning yang disebut sebagai jaundice. Hal ini terjadi akibat adanya akumulasi cairan empedu di dalam tubuh. Selain itu, keluhan lainnya adalah perut membuncit, urine berwarna gelap, dan tinja berwarna pucat. Biasanya tidak terjadi gangguan nafsu makan, pertumbuhan, dan berat badan.

Penyebab Atresia Bilier
Penyakit ini bukanlah penyakit menurun ataupun menular. Penyebab pasti dari terjadinya atresia bilier masih belum dapat dipastikan, namun kemungkinan terkait dengan:

Perubahan genetik
Gangguan sistem imun
Gangguan perkembangan hati dan saluran empedu saat di dalam kandungan
Paparan pada zat beracun saat dalam kandungan
Infeksi virus atau bakteri.
Faktor Risiko Atresia Bilier
Faktor risiko atresia bilier adalah sebagai berikut:

Bayi baru lahir
Bayi lahir prematur
Berasal dari Asia atau Afrika-Amerika
Perempuan
Diagnosis Atresia Bilier
Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan menanyakan beberapa pertanyaan terkait dengan riwayat kehamilan kelahiran, dan penyakit atau keluhan ibu saat hamil dan anak sesaat setelah lahir. Selanjutnya, akan dilakukan pemeriksaan fisik pada bayi untuk mengonfirmasi tanda dan gejala yang dialami. Pemeriksaan penunjang dapat dianjurkan untuk memastikan diagnosis, meliputi:

Pemeriksaan darah, seperti:
Bilirubin serum direk dan indirek
Alkali Fosfatase, serum aminotransferase, asam empedu serum, dan GGTP (5 nukleoridase, gamma-glutamil transpeptidase).
Serum Alfa-antitripsin dengan Pi typing. Defisiensi serum alfa-antitripsin merupakan salah satu tanda penyakit hati pada sumbatan empedu bayi baru lahir.
Sweat Chloride (CI). Pemeriksaan ini untuk memeriksa adanya fibrosis kistik yang dapat juga menyebabkan terjadinya gangguan pada saluran empedu.
Pemeriksaan pencitraan, seperti:
Ultrasound
Pemeriksaan ini digunakan untuk memberikan gambaran kondisi kantung empedu dan saluran empedu.

Biopsi hati
Dokter akan mengambil sedikit jaringan hati (sampel) untuk dilihat di bawah mikroskop. Pemeriksaan ini dapat membantu membedakan atresia bilier dan kondisi gangguan hati lainnya, seperti hepatitis. Pengambilan sampel hati dapat dilakukan dengan prosedur biopsi hati perkutan atau kolangiografi intraoperatif.

Pengobatan dan Efek Samping Atresia Bilier
Terapi untuk atresia bilier adalah dengan pembedahan. Prosedur Kasai adalah metode yang digunakan untuk menangani kondisi gangguan aliran empedu yang terjadi di luar hati. Tindakan ini disebut juga Kasai Portoenterostomi. Dokter bedah akan menyambungkan saluran empedu dengan usus, sehingga cairan empedu dapat mengalir kembali dengan baik. Setelah prosedur dilakukan, maka dapat diberikan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi pada saluran dan kantung empedu.

Pada sumbatan aliran di dalam hati, maka dapat diberikan obat-obatan dan vitamin A, D, dan E. Obat-obatan yang dapat diberikan, misalnya ursodiol, yang bertujuan untuk dapat membantu aliran empedu pada kondisi saluran empedu di luar hati dalam kondisi normal. Selain itu, transplantasi hati juga dapat dipertimbangkan untuk atresia bilier dengan kerusakan hati yang berat.

Pencegahan Atresia Bilier
Pada anak dengan atresia bilier, aliran empedu ke usus kecil berkurang dan terjadi kerusakan hati, sehingga dapat mengganggu proses pencernaan dan menimbulkan kondisi malnutrisi. Oleh karena itu, perlu dipastikan asupan kalori dan nutrisinya, baik melalui makanan maupun suplemen.

October 24th, 2020 by