October 24th, 2020 by publisher

Alergi susu bisa diartikan sebagai reaksi sistem kekebalan tubuh yang dikarenakan produk yang terbuat atau mengandung susu. Umumnya dialami oleh anak-anak, terutama saat mengonsumsi susu sapi atau produk yang mengandung susu sapi. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan kondisi ini dapat disebabkan oleh susu kambing, domba, maupun hewan menyusui lainnya. Protein susu yang paling sering menyebabkan alergi adalah whey dan kasein.

Faktor Risiko Alergi Susu
Sebagian orang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami alergi susu (rentan) dibanding orang lain. Faktor risiko yang dapat menjadi pemicunya antara lain:

Terdapat riwayat alergi pada anggota keluarganya, misalnya asma, eksim, rhinitis, atau hay fever.
Usia bayi dan anak-anak lebih mudah mengidap alergi susu, karena sistem pencernaan yang belum sempurna. Namun, kondisi ini akan membaik seiring pertambahan usia dan kematangan saluran pencernaan.
Terdapat riwayat dermatitis atopik atau peradangan kulit yang disebabkan alergi pada anak.
Mengidap alergi pada makanan atau minuman lain yang umumnya berkembang setelah alergi susu timbul.

Penyebab Alergi Susu
Penyebab utama alergi susu adalah terjadinya gangguan pada sistem kekebalan tubuh pengidap yang salah mengidentifikasi protein pada susu sebagai zat yang membahayakan tubuh. Hal ini memicu sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi Imunoglobilin E untuk menetralkan zat pemicu alergi tersebut dan melepaskan histamin ke dalam darah, sehingga menimbulkan gejala alergi susu. Alergi susu berbeda dengan intoleransi laktosa. Jika alergi disebabkan karena gangguan sistem kekebalan tubuh, maka intoleransi laktosa terjadi karena tubuh belum mampu menerima zat tertentu, dan tidak ada kaitannya dengan sistem kekebalan tubuh si pengidap.
Gejala Alergi Susu
Gejala alergi biasanya timbul satu jam setelah mengonsumsi susu. Gejalanya antara lain:

Muntah;
Napas berbunyi ngik;
Kemerahan pada kulit;
Gatal;
Bengkak;
Diare atau mencret yang dapat disertai darah pada kotorannya;
Kram perut;
Batuk;
Hidung berair;
Mata berair;
Ruam kemerahan gatal di sekitar mulut; dan
Adanya kolik pada bayi, ditandai dengan bayi menangis tanpa henti dan tanpa sebab yang jelas.
Pada reaksi alergi berat atau anafilaksis dapat timbul gejala sebagai berikut:

Saluran napas dan tenggorokan tersumbat, sehingga mengakibatkan sesak napas;
Tekanan darah turun drastis; dan
Wajah kemerahan dan gatal pada seluruh tubuh.
Tindakan pertolongan harus dilakukan jika ada analfilaksis atau gejala alergi berat. Pengidap harus segera dibawa ke rumah sakit.
Diagnosis Alergi Susu
Beberapa langkah yang akan dokter lakukan untuk menegakkan diagnosis alergi susu adalah sebagai berikut:

Menanyakan riwayat perjalanan alergi pada pengidap atau orangtua pengidap (bayi dan anak-anak) meliputi makanan dan minuman apa saja yang pernah dimakan, gejala alergi yang timbul, dan apakah gejala berkurang atau menghilang ketika makanan atau minuman dihentikan.
Pemeriksaan pada fisik untuk memeriksa indikasi alergi pada tubuh pengidap.
Pemeriksaan darah untuk memeriksa kadar antibodi Imunoglobulin E dalam darah pengidap.
Pemeriksaan melalui kulit, umumnya dilakukan dengan membuat luka kecil pada permukaan kulit si pengidap. Luka kecil pada kulit tersebut akan diletakan sejumlah kecil protein susu. Jika saat pengamatan muncul benjolam kecil yang gatal pada daerah tersebut, menandakan adanya alergi susu.

Pengobatan Alergi Susu
Pada anak, alergi susu akan menghilang seiring dengan pertambahan usia. Namun, pada beberapa kasus, ada anak yang tetap memiliki alergi susu hingga usia dewasa. Tindakan pengobatan yang yang paling utama adalah dengan menghindari susu atau produk makanan yang mengandung susu.

Obat-obatan yang sering digunakan untuk mengurangi gejala alergi adalah:

Antihistamin yang digunakan untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat gejala yang disebabkan oleh reaksi alergi.
Adrenalin untuk mengatasi gejala alergi berat atau anafilaksis yang diberikan dengan cara disuntikkan oleh dokter.
Pencegahan Alergi Susu
Menghindari alergi susu adalah dengan tidak mengonsumsi susu atau produk yang mengandung susu maupun protein susu. Beberapa produk yang mengandung susu atau proteinnya adalah mentega, yogurt, pudding, kue, es krim, keju, bahan makanan yang mengandung laktosa atau laktat, permen, cokelat, karamel, dan produk yang mengandung whey dan kasein.

Pada ibu menyusui, cara mencegah alergi susu sapi pada bayi adalah dengan memberikan ASI eksklusif tanpa penambahan susu formula atau minuman dan makanan lainnya selama 6 bulan pertama kehidupan bayi. ASI dianggap sebagai makanan terbaik dan bisa mencegah alergi susu pada bayi. Jika bayi sudah terdiagnosis memiliki alergi susu sapi, ibu dianjurkan untuk tidak mengonsumsi susu sapi atau produk yang mengandung susu sapi agar, zat tersebut tidak masuk melalui ASI kepada bayinya.

Jika ASI tidak dapat diberikan kepada bayi atau anak dengan usia lebih dewasa, terdapat beberapa alternatif pengganti. Pemberian susu formula hipoalergenik, susu kedelai, atau susu beras (rice milk) bisa menjadi alternatif pengganti untuk mencegah gejala yang ditimbulkan oleh alergi susu. Diskusikan dengan dokter jika anak memiliki gejala atau indikasi akan alergi susu dan berikan susu formula pengganti sesuai dengan anjuran dokter.

Posted in kesehatan Tagged with: ,

October 17th, 2020 by publisher

Alergi adalah reaksi sistem kekebalan tubuh seseorang terhadap suatu zat atau substansi yang dianggap berbahaya bagi tubuh, walaupun sebenarnya tidak berbahaya. Substansi yang dianggap tubuh berbahaya tersebut, dapet memicu reaksi alergi atau alergen. Alergen ini dapat berasal dari makanan tertentu, obat-obatan, serbuk sari, debu, tungau, gigitan serangga, bulu hewan, dan sebagainya.

Ketika seseorang terpapar dengan alergen, maka tubuhnya akan memproduksi antibodi, karena menganggap alergen sebagai suatu zat yang membahayakan tubuh. Setiap kali terpapar dengan alergen yang sama, tubuh akan meningkatkan produksi antibodi terhadap alergen tersebut. Dikarenakan produksi antibodi meningkat, memicunya histamin dilepaskan ke dalam darah dan berakibat timbulnya gejala alergi.

Faktor Risiko Alergi

Beberapa faktor risiko yang menyebabkan seseorang lebih rentan menderita alergi adalah:

Faktor keturunan. Terdapat riwayat anggota keluarga atau orang tua yang memiliki alergi. Hal ini umumnya terjadi pada anak-anak yang memiliki ayah atau ibu dengan riwayat penyakit alergi.
Faktor lingkungan. Semakin sering dan semakin lama seseorang terpapar dengan alergen tertentu, kemungkinan untuk menderita alergi semakin tinggi.
Penyebab Alergi

Reaksi alergi disebabkan karena sistem kekebalan tubuh salah mengidentifikasi alergen. Alergen dianggap membahayakan tubuh, padahal sebenarnya tidak. Saat terpapar dengan alergen, terbentuk antibodi yang disebut Imunoglobulin E (IgE). Saat terjadi kontak dengan alergen tersebut, produksi lgE akan meningkat sebagai reaksi tubuh. Terjadinya produksi lgE akan memicu pelepasan histamin, yang menimbulkan gejala alergi.

Beberapa substansi pemicu alergi (alergen) yang umum ditemui meliputi:

Makanan tertentu, seperti makanan laut, susu, telur, dan kacang-kacangan;
Bulu hewan, tungau, serbuk sari, atau debu;
Gigitan serangga, misalnya sengatan lebah;
Obat-obatan tertentu; dan
Bahan kimia tertentu, seperti sabun, sampo, parfum, atau bahan lateks.
Gejala Alergi

Gejala alergi umumnya timbul beberapa saat hingga beberapa jam setelah tubuh terpapar dengan alergen. Gejala alergi yang umum ditemui, antara lain:

Ruam kemerahan pada kulit;
Gatal pada kulit yang mengalami ruam;
Bersin dan batuk;
Sesak napas;
Hidung berair;
Bengkak pada bagian tubuh yang terpapar dengan alergen, misalnya pada wajah, mulut, lidah, dan tenggorokan;
Mata merah, berair, dan gatal; dan
Mual, muntah, sakit perut, atau diare.

Beberapa gejala yang disebutkan di atas adalah gejala yang intensitasnya ringan sampai sedang. Gejala alergi yang berat, dapat memicu reaksi anafilaksis yang bisa meningkatkan risiko kematian.

Pada gejala yang berat ini, penderita harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan segera. Gejalanya, antara lain:

Sesak napas yang berat;
Pusing;
Tekanan darah turun drastis;
Mual dan muntah;
Ruam kemerahan yang luas pada kulit;
Denyut nadi cepat tapi lemah; dan
Pingsan atau tidak sadarkan diri.
Diagnosis Alergi

Dokter akan mendiagnosis alergi dengan beberapa langkah di bawah ini:

Memeriksa riwayat perjalanan penyakit secara rinci, riwayat penyakit alergi pada keluarga atau kedua orangtua, juga termasuk.
Pemeriksaan fisik untuk mendapatkan tanda-tanda alergi pada tubuh pengidap.
Tes Tempel (Patch Test). Tes ini merupakan suatu pemeriksaan yang cukup aman untuk mendiagnosis alergi. Caranya adalah dengan meletakkan satu jenis alergen pada sebuah plester yang kemudian ditempelkan pada permukaan kulit pengidap selama dua hari. Kemudian, reaksi kulit yang timbul akan diamati.
Tes Tusuk Kulit (Skin Prick Test). Pemeriksaan ini digunakan untuk mengetahui alergi pada makanan, obat-obatan, alergen udara, atau racun serangga. Permukaan kulit pengidap akan ditetesi cairan alergen, kemudian ditusuk secara perlahan dengan jarum halus dan diamati reaksi yang timbul. Jika muncul benjolan merah dan gatal dalam waktu 15 menit pada permukaan kulit, pengidap dinyatakan positif alergi terhadap alergen tersebut.
Pemeriksaan Darah. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengukur kadar IgE tertentu dalam darah.
Tes Eliminasi Makanan. Tes ini dilakukan dengan cara menghindari jenis makanan tertentu yang diduga sebagai pemicu alergi, kemudian diamati perbedaan reaksi dan gejala yang dialami pengidap. Tes ini harus dilakukan di bawah pengawasan dokter, karena dapat memicu timbulnya gejala alergi yang cukup berat.

Pengobatan Alergi

Pengobatan utama pada alergi adalah menghindari alergen yang memicu munculnya gejala alergi. Selain itu, terdapat beberapa obat-obatan yang bisa mengendalikan gejala alergi yang muncul seperti obat yang menghambat efek penyebab dari alergi, obat yang mengatasi peradangan pada gejala alergi, dan obat yang menghambat efek leukotrien penyebab pembengkakan pada saluran pernapasan saat terjadi gejala alergi. Selain itu, bisa dilakukan terapi desensitasi melalui suntikan, tetesan, maupun tablet yang dilakukan selama beberapa tahun dan bertujuan untuk membiasakan tubuh terpapar alergen tersebut, sehingga tidak memberikan reaksi yang berlebihan.

Pencegahan Alergi

Pencegahan alergi tergantung pada jenis alergen yang menjadi pemicunya. Pencegahan dilakukan dengan mencegah tubuh pengidap terpapar alergen. Gunakan gelang atau kalung penanda alergi saat bepergian, sehingga orang di sekitar dapat menolong pengidap jika terjadi gejala alergi sewaktu-waktu.

Posted in kesehatan Tagged with: